Senin, 04 Juli 2016

Jual Dupa , Bukhur asli Indonesia


Dupa  atau Bukhur dalam berbagai Kemasan



















Kemenyan



Kemenyan Pasir Sumatra

POHON KEMENYAN
Kemenyan merupakan getah yang dihasilkan  dari batang pohon kemenyan ( Styrax spp., suku Styracaceae ; terutama S. benzoin Dryand. dan S. paralelloneurus Perkins). Getah / carian  yang kering berupa keping-keping putih atau keputihan, keras namun rapuh, dan mengeluarkan aroma wangi yang khas..

Getah kemenyan pada unumnya dibagi tiga kelas : kelas satu getah putih yang disebut sidukabi atau mata zam zam yang mempunyai nilai jual tinggi, kelas dua :  dimana getahnya berwarnya kekuning2an dan kelas tiga yaiyu sisa panen yang terluka akibat panen yang pertama..




Kemenyan Madu


Sedangkan secara besar kecil ukuran getahnya dapat dikelompokan menjadi 7 kelompok yaitu dari yang termahal sampai termurah : Mata lasar, kacang, jagung, besar, pasir kasar, pasir halus hingga abu. Kemenyan ini dalam perdagangan internasional dikenal sebagai kemenyan sumatra; yang lainnya adalah kemenyan siam , yang lebih harum , yang dihasilkan oleh S.tonkinensis dari siam dan Tonkin. Resin / getah kemenyan baru diproduksi oleh pepagan saat batang mengalami infeksi oleh fungi (jamur) tertentu.





Kemenyan Arab


 Resinnya terutama mengandung asam benzoat dan turunannya, seperti lubanolbenzoat, sumaresinol, vanilin, stirol (bukan sterol!), Benzaldehida, benzilsinamat, dan fenilpropilsinamat.

getah kemenyan


Kegunaan :
Kemenyan digunakan dalam industri farmasi sebagai bahan pengawet dan campuran obat batuk serta dalam industri parfum sebagai bahan baku wewangian. Secara tradisional, kemenyan digunakan sebagai campuran dupa dalam ritual Kejawen . Kemenyan memiliki sifat fiksatif sehingga mengikat minyak atsiri agar tidak terlalu cepat menguap. Penggunaan lainnya adalah sebagai bahan campuran dalam industri rokok klembak-menyan.

 Di Indonesia kemenyan banyak digunakan untuk kepentingan ritual dan tolak bala atau hampir di setiap acara-acara penting dan hari bersejarah bau kemenyan nyaris tidak tertinggalkan. Sedangkan di beberapa negara Eropa dan Amerika kemenyan banyak digunakan untuk terapi kesehatan maupun kecantikan , bahkan di kamar-kamar hotel berbintang sering kita jumpai wewangian kemenyan yang dicampur dengan bunga melati.


Khasiat  Kemenyan Pengobatan
Kini para ilmuwan telah mengamati bahwa ada kandungan dalam kemenyan yang menghentikan penyebaran kanker. Belum diketahui secara pasti kemungkinan kemenyan sebagai anti kanker.
Namun dulu pada abad kesepuluh, Ibnu Sina, ahli pengobatan Arab, merekomendasikan kemenyan sebagai obat untuk tumor, bisul, muntah, disentri dan demam.

Dalam pengobatan tradisional Cina, kemenyan digunakan untuk mengobati masalah kulit dan pencernaan. Sedangkan di India, kemenyan digunakan untuk mengobati arthritis. Khasiat kemenyan sebagai obat arthritis tersebut mendapat dukungan dari penelitian laboratorium di Amerika Serikat.
Kemenyan yang biasa digunakan untuk urusan mistis ternyata berdasarkan hasil penelitian juga mampu menurunkan kadar kolesterol jahat.

Penelitian yang dilakukan oleh King Abd Al-Aziz University di Arab Saudi menemukan bahwa kemenyan bisa menurunkan kadar kolesterol jahat.
Kemenyan, menurut peneliti Nadia Saleh Al-Amoudi, bisa dipadukan dengan materi dari tumbuhan lainnya untuk meningkatkan kesehatan jantung. Akan tetapi, masih belum ditemukan cara yang jelas agar manusia bisa mengonsumsinya.

“Kemenyan telah lama digunakan sebagai pengobatan medis untuk mengatasi sakit tenggorokan, hidung mampat, bekas luka dan luka bakar,” jelas Al-Amoudi, seperti diberitakan dari situs Healthday.
Studi yang dipublikasikan di International Journal of Food Safety, Nutrition and Public Health ini, peneliti memberikan kemenyan kepada binatang pengerat albino dan menemukan bahwa kadar kolesterol jahat binatang pengerat itu turun sedang kadar kolesterol baik meningkat.


Kemenyan madu 
Pada umumnya di indonesia kemenyan dipergunakan untuk acara ritual keagamaan atau tradisi , 
( perbedaan tersebut  dilihat dari aromanya juga banyaknya kadar kemenyan  serta besar kecilnya ukuran kemenyan yang dipakai ), sedangakan untuk kemenyan biasa hampir tidak menggunakan getah


Kemenyan standar
kemenyan melainkan menggunakan getah yang disebut damar dikombinasi dengan yang lainnya, sehingga harga lebih murah , tetapi tetap mempunyai aroma  wangi. Untuk kemenyan jenis ini terdapat banyak warna seperti hitam, kuning, putih dan merah. 

Ini karena disesuaikan dengan kebutuhan dalam pemakainya. 

Rabu, 20 April 2016

Bibit Gaharu











  • Harga Bibit Gaharu       Tinggi 20 – 60 cm                            Rp. 6. 000,-/btg 
  • Harga Anakan Gaharu  Tinggi 05 – 15 cm                            Rp. 3.000,-/btg 
  •                                                                                      (minimal order 1000 btg)
  • Harga Biji Gaharu                                                                   Rp. 900.000,-/Kg 
  • Tersedia Bibit Gaharu    Tinggi  100 cm
MAHALNYA HARGA POHON EMAS/ GAHARU
Mahalnya harga jual getah dan pohon gaharu saat ini membuat banyak petani Kotabaru mulai tertarik untuk mengembangkan dan membudidayakan pohon gaharu. Selain memiliki harga ekonomis yang tinggi, pohon gaharu juga dapat tumbuh di kawasan hutan tropis. Pengembangan pohon gaharu saat ini tak terlalu banyak dikenal orang.
 Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan menanam pohon ini. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan warga hanya dalam waktu beberapa tahun. Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga.
 Karena itu sebenarnya warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 9 sampai 10 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram getah gaharu. Sementara harga getah gaharu mencapai Rp5-20 juta per kilogram. 
Harga itu tergantung dari jenis dan kualitas getah gaharu. Untuk getah gaharu yang memiliki kualitas rendah dan berwarna kuning laku dijual Rp5 juta per Kg, sedangkan untuk getah pohon gaharu yang berwarga hitam atau dengan kualitas baik laku dijual Rp15-20 juta per Kg.
 Salah seorang petani Kotabaru yang sudah mengembangkan pohon gaharu ini adalah Miran, warga Desa Langkang, Kecamatan Pulau Laut Timur. Menurutnya, untuk menanam pohon gaharu dan menghasilkan banyak getah diperlukan perawatan khusus. Saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. 
Setiap pohon diperlukan satu ampul dengan harga Rp300 ribu. Miran mengaku, ia sudah menjual sekitar 50 batang pohon gaharu yang masih berumur sekitar 1-3 tahun dengan nilai Rp19 juta. Ia juga telah menanam 500 batang pohon gaharu dengan umur satu tahun lebih dan tinggi sekitar 50 cm. 
Karena memiliki sifat tumbuh yang tidak jauh beda dengan tanaman hutan lainnya, setiap hektar lahan dapat ditanam sekitar 500 pohon gaharu dengan jarak tanam sekitar 3-4 kali 6 meter. Bibit pohon gaharu tersebut ia peroleh dari Samarinda, Kalimantan Timur, yang sebelumnya dikembangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Harga bibit dari Rp7.500 sampai Rp10.000 per pohon. 
Untuk pemasaran tidak perlu repot, karena banyak pembeli yang siap mendatangi mereka yang memiliki getah gaharu. Pengusaha transportasi itu juga berharap usaha yang ia rintis dapat diikuti masyarakat dan petani lain di Kotabaru. Apalagi bila mengingat masih banyak lahan tidur dibiarkan terbengkalai mubazir. “Jika lahan tidur di wilayah kita dikembangkan dengan menanam gaharu, maka 10-15 tahun kemudian akan menghasilkan uang ratusan juta,terang Miran. 
Sebelumnya, Miran sudah mencoba beberapa tanaman kebun, namun hasilnya tidak seperti menanam pohon gaharu. Dalam satu pohon usia dewasa dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah,


Selasa, 12 April 2016

gaharu Budidaya

GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai 
ekonomi yang sangat tinggi, sehingga sangat 
tepat apabila dikembangkan untuk meningkatkan
 pendapatan masyarakat Indonesia. Hampir semua
 bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk 
bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang 
terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut 

gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, 
sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling 
untuk produksi minyak dengan harga yang sangat
 menjanjikan. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk
 pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun 
semakin hari semakin meningkat variasinya, 
menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri.
Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, 
bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri
 kosmetika, bahan baku untuk bahan obat 
(kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO
 (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu),
bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan 
untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu
 bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal
gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg,
 sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu 
gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.
Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah 
Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, 
Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu 
dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding 
lurus dengan harganya. Sementara stok gaharu alam
 semakin menurun akibat ditebang terus-menerus 
tanpa diimbangi penanaman. Kebutuhan gaharu
 dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin
 meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk 
obat-obatan di China. Kebutuhan obat merupakan 
kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya
 sangat dibutuhkan manusia.
Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil gaharu 
terbesar di dunia, namun saat ini potensinya menurun, bahkan
 gaharu sudah menjadi jenis yang langka ditemukan. Beberapa
 jenis pohon penghasil gaharu sebagian besar termasuk dalam
 famili Themeleaceae, terutama dari genus Aquilaria dan 
Gyrinops, yang dapat menghasilkan gubal gaharu dengan 
kualitas terbaik (harga tinggi). Untuk mendapatkan hasil 
yang maksimal dalam penanaman gaharu diperlukan 
pengetahuan yang memadai dalam bidang silvikultur 
(teknik budidaya) dan teknologi untuk mempercepat
alah tersebut diatas, rasanya sulit untuk mendapatkan hasil 
gaharu yang memuaskan. Perlu diketahui bahwa tidak semua
 pohon gaharu menghasilkan gubal gaharu, hanya pohon
 yang terinfeksi cendawan tertentu saja yang dapat 
menghasilkan gubal gaharu. Sehingga secara alami pohon 
gaharu yang dapat menghasilkan gubal, prosentasenya 
sangat kecil, Oleh karena itu diperlukan teknologi inokulasi
 untuk mempercepat terbentuknya gubal gaharu. Ayo lestarikan
 hutan Indonesia demi generasi mendatang.

Apa itu agarwood (gaharu)?
Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna
 yang khas, memiliki kandungan damar wangi, berasal dari
 pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai 
akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau
 buatan pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae).
Harga 1 Batang Pohon Agarwood bisa mencapai beberapa ribu
 dollar USD per kilogram, makanya Pohon Ini disebut
 sebagai “POHON YANG SANGAT MAHAL DI DUNIA 


  •  ”MOST EXPENSIVE TREES IN THE WORLD”
Setelah Penyulingan Harga Minyak Gaharu Bisa Mencapai 
Sekitar USD 5,000 ~ USD 10,000/kg dan Setelah Dibuat
 Menjadi Cairan Extract Harganya Mampu Mencapai 
Lebih Dari USD 30,000 atau Rp. 300.000.000,- / Liter.

Manfaat Agarwood
- Aktivitas Kebudayaan - Islam, Budha, Hindu
- Perayaan Keagamaan - Kebanyakan di Negara Islam dan Arab
- Wangi Parfum - Wanginya Tahan Lama Banyak Diminati 
di Negara Eropa Seperti Daerah Yves Saint Laurent, 
Zeenat dan Amourage
- Aroma Terapi - Menyegarkan Tubuh, Perayaan dan Undangan
- Kecantikan - Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak
- Obat & Kesehatan - Biasa Digunakan di
 Pengobatan Tradisional Khususnya Dinegara China dan Jepang
- Koleksi Pribadi - Untuk Ruangan Besar Khusus Eksklusif

Kebutuhan Agarwood Dunia
Kebutuhan dunia akan agarwood atau gaharu terus meningkat. Menurut statistik, Indonesia yang pada tahun 1995 menjadi pengexport gaharu yang cukup besar, kini nilai exportnya semakin menurun.
Mengingat permintaan dunia akan agarwood yang terus meningkat, maka proyek Pengembangan Agarwood sangat menguntungkan "Investment for Highest Profit"



Penanganan Bibit Gaharu Cabutan/Stump
Berikut ini kami sampaikan beberapa catatan untuk
 mendukung keberhasilan pemeliharaan bibit gaharu
 (Aquilaria malaccensi) yang berasal dari cabutan/stump 
(pengiriman dari tempat lain) :
Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus
 terlebih dahulu dikondisikan dengan penyungkupan.
 Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko 
kegagalan walaupun bedeng pemeliharaan telah diletakkan
 di bawah naungan sekalipun. Ikuti petunjuk teknis
 pembuatan sungkup sebagaimana yang kami lampirkan. 
Sungkup terbuat dari plastic dan plastic sungkup tersebut 
dapat diperoleh dari toko peralatan pertanian atau toko plastic.
Media tanam sebaiknya merupakan campuran: tanah : kompos :
 pasir (2:1:1)
Penyiraman pertama harus betul-betul jenuh air dan 
penyiraman berikutnya hanya dilakukan jika media tanam
 terlihat kering. Dalam penyiraman tersebut dihindari 
membuka sungkup ukuran besar, cukup hanya dimasuki 
selang/lobang kecil.
Peletakan sungkup/bedeng pemeliharaan harus di bawah 
naungan tegakan (sebaiknya rindang) sehingga tidak 
ada sinar matahari langsung dengan intensitas tinggi dan
 lama. Paranet/shading net 75% diperlukan jika naungan
 tegakan kurang dan sebaiknya diatas sungkup diberikan lag
i jerami/ pelepah daun kelapa/sawit. Periksa jika terjadi
 kebocoran pada sungkup.
Hindari membuka-tutup sungkup cukup sering. Dengan 
pembuatan sungkup yang tepat, kondisi di dalam sungkup
 akan terlihat mengembun dan tidak kering. Jika terlalu
 sering membuka dan menutup sungkup bibit beresiko kematian.
Setelah 3-4 minggu, sungkup dibuka secara bertahap,
 dilarang membuka sungkup sekaligus. Contoh : hari pertama 
dibuka 0,5 meter, hari kedua 1 meter dan seterusnya. Jika 
dibuka sekaligus bibit beresiko kematian.
Setelah dikeluarkan dalam sungkup, bibit dipeliharan 
dibawah naungan paranet dan sebaiknya juga di bawah 
tegakan agar tercipta iklim yang baik bagi pertumbuhan bibit.


CONTOH BIBIT ANAKAN TANPA POLIBAG SEBELUM di SUNGKUP PLASTIK


CONTOH BIBIT ANAKAN YANG DI KASIH SUNGKUP PLASTIK


CONTOH BIBIT GAHARU POLIBAG SIAP TANAM


MEMPERCEPAT PRODUKSI GAHARU DENGAN TEKNOLOGI INOKULASI
Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Pemanfaatan gaharu sangat bervariasi dari bahan baku pembuatan dupa, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, hingga bahan obat-obatan sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf, dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan dan perdagangan yang masih mengandalkan alam, beberapa jenis tertentu pohon penghasil gaharu mulai langka dan telah masuk dalam appendix II CITES.

Mengantisipasi kemungkinan pubahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi.

Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga), dan Banten (Carita).

Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan. Untuk saat ini, produksi gaharu buatan yang dipanen pada umur 1 tahun berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US$ 100 per kilogram.

Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.



BIBIT 
1.Ada sertifikat keaslian bibit pohon gaharu
2.Ada jaminan dari perusahaan mengenai  penyediaan SERUM untuk proses INOKULASI
3.Ada jaminan dari perusahaan untuk pembelian gubal di saat panen
4.Ada sistem sehingga memungkinkan uang yang di belanjakan untuk beli bibit gaharu bisa kembali ( BALIK MODAL ) sebelum PANen


HARGA BIBIT POHON GAHARU
1.Bibit anakan tanpa polibag isi: 110 Pohon Harga Rp.400.000,-
2.Bibit polibag siap tanam isi: 50 Pohon Harga Rp.1.250.000,-
3.Bibit paket investasi isi: 1 Pohon Harga Rp.500.000,-
4.Serum ( inokulum ) untuk suntik gaharu 1 liter harga Rp.850.000,-

ANALISA BUDIDAYA GAHARU
Analisa biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu, pada luasan tanah
240 m2 , jangka waktu 10 tahun. Dengan jarak tanam 3m X 3m luas tanah
240 m2 (asumsi 12 m X 20 m) cukup ideal ditanami gaharu sebanyak
25 batang. Berikut ini adalah perincian biaya dan keuntungan dari
budidaya pohon penghasil gaharu:

1. BIAYA
Biaya sendiri kita bedakan menjadi 3 yaitu:
biaya tahap 1 (pengadaan bibit,penanaman dan perawatan di tahun pertama),
biaya tahap 2 (perawatan tanaman pada tahun ke-2 sampai tahun ke-7),
biaya tahap 3 (inokulasi dan perawatan pasca inokulasi tahun ke-8 sampai tahun ke-10).

a. Biaya tahap 1 :
- pembelian bibit 25 btng @ Rp.15.000 = Rp. 375.000
- pupuk kandang 100 kg @ Rp.500 = Rp. 50.000
- pestisida (furadan,stiko,dll ) = Rp. 50.000
- tenaga penanaman = Rp. 200.000
- tenaga perawatan = Rp. 200.000
JUMLAH = Rp. 875.000,-

b. Biaya tahap 2 :
- pupuk kandang = Rp. 300.000
- pupuk pabrik = Rp. 300.000
- pestisida = Rp. 200.000
- tenaga perawatan = Rp. 500.000
- Biaya oprasional = Rp. 1.000.000
JUMLAH = Rp. 2.300.000

c. Biaya tahap 3:
- pembelian fusarium sp 25 botol @Rp.350.000 = Rp.4.375.000,- ( Subsidi 50% dari Perusahaan)
- tenaga inokulan = Rp. 2.500.000
- tenaga perawatan = Rp. 500.000
- tenaga panen = Rp. 2.500.000
- lilin inokulan = Rp.100.000
JUMLAH = Rp.9.975.000,-

Jumlah a+b+c = Rp.13.150.000,-

2. PENERIMAAN
Dengan asumsi bahwa tingkat keberhasilan inokulasi adalah 80 %, dari 25 batang
tanaman cuma menghasilkan 20 batang pohon saja yang bisa dipanen.
Satu batang, pohon gaharu dengan masa inokulasi 3 tahun menghasilkan rata-rata 2 kg gubal, 5 kg
kemedangan, dan 10 kg abu.
Sehingga total yang dihasilkan dari 20 batang adalah 40 kg gubal, 100 kg kemedangan, dan 200 kg abu.

A. GUBAL 40 KG @ RP.5.000.000,- = RP. 200.000.000
B. KEMEDANGAN 100 KG @ RP.1.000.000 = RP. 100.000.000
C. ABU 200 KG @ RP.200.000 = RP. 40.000.000
JUMLAH = RP.340.000.000,-
Jumlah penerimaan diatas kami ambil dari data harga jual gaharu yang paling rendah,sedangkan gubal kualitas super harga bisa mencapai Rp.25.000.000/Kg

3. KEUNTUNGAN
PENERIMAAN  BIAYA = RP. 340.000.000-  RP. 13.150.000- = RP. 326.850.000
jadi di rata rata perpohon = Rp.326.850.000 : 25 = Rp.13.074.000,-