Minggu, 24 Oktober 2010

Jual Serbuk gaharu,



Kami mencari pasar lokal dan aksport untuk penjualan serbuk gaharu.serbuk gaharu adalah bahan bakar hio atau dupa.biasa juga dibuat ma"mul.Potensi pasar terbesar adalah negeri cina daratan.Dengan penduduk sedemikian besar,potensi pasar yang tersedia luar biasa.Mereka membutuhkan comodity ini buat bahan baku Hio sebagai alat untuk bersembahyang menurut agama Kong Hu cu

Jumat, 22 Oktober 2010

Jual - Beli Gaharu,



Video Gaharu



antangan Agribisnis dari Si Wangi Gaharu
Minggu, 21 Maret 2010


bibit Aquilaria malaccensis
Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan berwarna coklat muda sampai hitam yang terdapat diantara sel-sel kayu. Tanaman yang bisa menghasilkan gaharu biasa disebut Pohon Gaharu. Sebaran Pohon Gaharu di Asia diantaranya adalah di India, Laos, Burma, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri Pohon Gaharu tersebar di Pulau Irian, Sumarta, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, maluku dan sedikit di Jawa bagian Barat.

Adapun jenis Pohon Gaharu dan penyebarannya di Indonesia adalah:

1. Aquilaria malaccensis (Sumatra dan Kalimantan)

2. Aquilaria beccariana (Sumatra dan Kalimantan)

3. Aquilaria microcarpa (Sumatra dan Kalimantan)

4. Aquilaria filaria (Irian dan Maluku)

5. Aquilaria cumingiana (Sulawesi)

6. Aquilaria tomntosa (Irian)

7. Grynops audate dan Grynops podocarpus (Irian)

8. Grynops versteegii (Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Irian)

9. Wikstoemia androsaemifolia (Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan

Sulawesi).

Dan masih banyak lagi beberapa spesies pohon penghasil Gaharu yang tersebar di kedalaman hutan di Indonesia.

Dari beberapa spesies pohon penghasil gaharu diatas, pohon dari marga Aquilaria memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan yang paling banyak diburu adalah Aquilaria malaccensis karena gaharu yang dihasilkan memiliki mutu yang sangat baik.

Manfaat Gaharu

Gaharu mengandung essens yang disebut sebagai minyak essens (essential oil) yang dapat dibuat dengan eksraksi atau penyulingan dari gubal gaharu. Essens gaharu ini digunakan sebagai bahan pengikat (fixative) dari berbagai jenis parfum, kosmetika dan obat-obatan herbal. Selain itu, serbuk atau abu dari gaharu digunakan sebagai bahan pembuatan dupa/hio dan bubuk aroma therapy.

Daun pohon gaharu bisa dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh. Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh gaharu juga ampuh sebagai obat anti mabuk.

Ampas dari sulingan minyak dari marga Aquilaria di Jepang dimanfaatkan sebagai kamfer anti ngengat dan juga mengharumkan seluruh isi lemari. Oleh masyarakat tradisional Indonesia, gaharu digunakan sebagai obat nyamuk, kulit atau kayu gaharu dibakar sampai berasap. Aroma harum tersebutlah yang tidak disukai nyamuk (sumber: majalah Trubus).

Cara Menanam dan Pemeliharaan

Pohon penghasil gaharu secara umum tidak memerlukan syarat tumbuh yang khusus, pohon dapat tumbuh dengan baik pada struktur tanah yang ringan sampai berat dengan terkstur lempung ataupun pasir. Secara ekologi dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 - 2.400 meter dpl, kelembapan 60 – 80 % dengan curah hujan 1.000 – 3.500 mm/th.

Penanaman dimulai dengan membuat lubang tanam dengan kedalaman 30 cm, panjang dan lebar lubang 30 cm. Setelah lubang terbuat, isi lubang dengan pupuk organik matang sampai kedalaman lubang menyisakan 15 cm. Kemudian taburkan 1 sdm akarisida (furadan, marshal, atau rugby) untuk melindungi tanaman dari serangan anjing tanah (orong-orong), gasir, dan hama lainnya yang hidupnya di tanah. Setelah penaburan akarisida, bibit tanaman dikeluarkan dari polybag dan usahakan tanah dalam polybag jangan sampai pecah.

Masukan bibit dengan tinggi minimal 30 cm ke lubang dan lubang diurug dengan tanah yang dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1. Setelah lubang tertutup oleh tanah, taburkan lagi akarisida di sekeliling tanaman sebanyak 1 sdm kemudian siram dengan air. Pemberian akarisida akan melindungi tananam pada masa kritis yaitu sebelum tanaman berumur lebih dari 3 bulan.

Pemeliharaan dilakukan dengan penyiangan dan pemberian pupuk organik setiap 2 bulan dan pemberian pupuk NPK pabrik setiap 4 bulan sampai tanaman berumur 3 tahun dengan dosis disesuaikan. Setelah tanaman berumur lebih dari 3 tahun pemberian pupuk dilakukan setiap 6 bulan dengan dosis 250 gram/pohon ditabur disekitar pangkal pohon kemudian ditutup dengan tanah.

Usahakan tanaman mendapatkan air yang cukup dan jangan sampai terendam air pada saat musim hujan.

Pembentukan Gubal

Gubal gaharu akan dihasilkan oleh pohon penghasil gaharu yang terinfeksi mikroba fusarium sp, datangnya mikroba fosarium sp ini bisa secara alami dan dengan menyuntikan mikroba ke pohon yang tentunya bertujuan agar pohon terinfeksi fusarium sp. Selang waktu 1-3 tahun setelah disuntik gubal gaharu baru terbentuk.

Kelas, harga dan pemasaran gaharu

Permintaan pasar terhadap gaharu terus meningkat. Selain kebutuhan peribadatan berberapa agama, gaharu juga digunakan oleh masyarakat Arab untuk sebagai siwak. Kondisi iklim yang panas dan kegemaran mengkonsumsi daging membuat tubuh mereka bau menyengat sehingga wangi gaharu digunakan sebagai pangharum.

Harga gaharu sendiri ditentukan berdasarkan kelas, adapun kelas-kelas dalam gaharu secara garis besar adalah:

1.Gubal

a.super: hitam merata, kandungan damar wangi tinggi, aroma kuat

b.super AB: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi cukup, aroma kuat

c.sabah super: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

d.kelas C: hitam banyak garis putih, kepingan kayu tipis, rapuh

2.Kemedangan

a.tanggung A: coklat kehitaman, kandungan damar wangi tinggi, aroma agak kuat

b.sabah I: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

c.tanggung AB: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

d.tanggung C: kecoklatan bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

e.kemedangan I: kecoklatan bergaris putih lebar, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

f.kemedangan II: putih keabu-abuan bergaris hitam tipis, kandungan damar wangi kurang, aroma kurang kuat

g.kemedangan III: putih keabu-abuan, kandungan damar wangi kurang,aroma kurang kuat

3.Abu/cincangan yang merupakan potongan kayu kecil hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu

(sumber: majalah Trubus)

Harga gaharu terus meningkat seiring dengan permintaan pasar, namun ketersediaan gaharu dari alam terus menurun, hal inilah yang mendasari budidaya gaharu.

Adapun negara tujuan eksport gaharu diantaranya adalah Singapura, Timur Tengah, Taiwan, Jepang, Hongkong, Korea dan Malaysia. Adapun eksport terbanyak ke negara Singapura baru Timur Tengah di urutan ke-2.

gambar gaharu

Selasa, 20 Juli 2010

Jual Damar Batu & Damar Batubara


Damar Batu

Damar Batu

Damar Batu

Damar Batu



===================================================================

(Berikut ini disebut Damar batu Bara)

Damar batubara

Damar Batubara

Damar Batubara

Damar Batubara


Damar Batubara



Dicari pembeli serius :  Damar Batu  dan  Damar Batu Bara 
asal kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi,
dalam jumlah banyak dan rutin,: 2 hingga 4 kontainer per bulan.
Mekanisme transaksi :
01.  Pembeli liat contoh barang, cocok, teken kontrak, notariel
02. Down Payment:  50%  barang disiapkan
03. Loading kontainer, BL keluar, Bayar lunas
Full dokumen, legal, dan resmi

(HARGA DAPAT BERUBAH SEWAKTU- WAKTU)

Damar adalah hasil sekresi (getah) dari pohon Shorea sp., Vatica sp., Dryobalanops sp., dan lain-lain dari suku meranti-merantian atau Dipterocarpaceae. Di dalamnya termasuk damar mata kucing dan damar gelap. Damar dimanfaatkan dalam pembuatan korek api (untuk mencegah api membakar kayu terlalu cepat), plastik, plester, vernis, dan lak.

Kopal adalah hasil olahan getah (resin) yang disadap dari batang damar (Agathis dammara [sin. A. alba] dan beberapa Agathis lainnya) serta batang dari batang pohon anggota suku Burseraceae (Bursera, Protium). Kopal merupakan bahan dasar bagi cairan pelapis kertas supaya tinta tidak menyebar. Bahan ini juga dipakai sebagai campuran lak dan vernis.

Agathis dammara menghasilkan kopal yang dikenal sebagai "Manila copal". A. australis menghasilkan "Kauri copal".

Kopal telah lama dikenal dalam kebudayaan Amerika Tengah, seperti Aztek dan Maya. Asal-usul nama "kopal" berasal dari bahasa setempat yang berarti "dupa" atau "setanggi".

Kandungan kopal adalah asam-asam resinol, resin, dan minyak atsiri. Penggunaannya adalah sebagai bahan perekat pada penambal gigi dan plester, campuran lak dan vernis. 

Minyak kopal diperoleh dari penyulingan dan digunakan sebagai campuran parfum. Kopal sering dianggap sebagai atau dijadikan pengganti batu damar, dan dijadikan mata cincin.

Aromatherapy : Jual Kayu Cendana asal Kupang








Dicari pembeli serius, 
kayu cendana:  Kupang 
bentuk gelondongan, diameter, 15 cm Up, x Panjang variasi, 30 sampai 290 cm,
juga akar dan tunggul aslinya
system transaksi :

Negotiable
Full dokumen, resmi dan legal, lengkap dengan SURAT SHHBK,


Nusa cendana,
negeri yang menyimpan kekayaan alam Indonesia

Kerajaan Amanatun (Onam) terletak di pulau Timor bagian barat, wilayah Indonesia dan merupakan kerajaan tua. Di era kemerdekaan kerajaan Amanatun bersama kerajaan Molo (Oenam) dan kerajaan Amanuban (Banam) membentuk kabupaten Timor Tengah Selatan (dalam bahasa Belanda disebut Zuid Midden Timor) dengan ibu kota SoE - provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pada tahun 1920 kota SoE ditetapkan menjadi ibukota Zuid Midden Timor (Timor Tengah Selatan) atas kesepakatan bersama dari ketiga Raja yakni Raja Lay Akun Oematan sebagai Raja Molo, Raja Pae Nope sebagai Raja Amanuban dan Raja Kolo Banunaek sebagai Raja Amanatun.

Nama kota SoE sendiri sudah mulai dikenal pada tahun ±1905/1906 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada masa pemerintahan Belanda Kerajaan Amanuban dan Kerajaan Amanatun pernah berkantor bersama di Niki-niki. Hal ini disebabkan karena belum adanya jalan ke wilayah Amanatun dan Belanda takut ke sana.

Jauh sebelum datangnya bangsa Portugis dan Belanda di Indonesia maka kerajaan Amanatun sudah ada dan mempunyai pemerintahan sendiri yang asli.

Cendana, atau cendana wangi, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.[2]

Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.

Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.

Di Indonesia, kata "cendana" sering digunakan oleh pers untuk menyebut sesuatu yang berkaitan dengan Soeharto, presiden R.I. yang kedua, dan orang-orang dekatnya. Alasannya karena rumah pribadi Soeharto beserta beberapa anaknya terletak di Jalan Cendana, Jakarta Pusat.

Rabu, 21 April 2010

Jenis Gaharu dunia

Rabu,21 April 2010
Ranking Gaharu Dunia
1. AQUILARIA SUBINTEGRA Found at Thailand
2. AQUILARIA CRASSNA Found at Thailand, Cambodia, Loas, Vietnam
3. AQUILARIA MALACCENSIS Found at Thailand, India, Indonesia
4. AQUILARIA APICULATA Found at Philippines
5. AQUILARIA BAILLONIL Found at Thailand, Combodia, Loas, Vietnam
6. AQUILARIA BANEONSIS Found at Vietnam
7. AQUILARIA BECCARIAN Found at Indonesia
8. AQUILARIA BRACHYANTHA Found at Malaysia
9. AQUILARIA CUMINGIANA Found at Indonesia, Philippines
10.AQUILARIA FILARIA Found at Nuegini, China
11.AQUILARIA GRANDIFLORA Found at China
12.AQUILARIA HILATA Found at Indonesia, Malaysia
13.AQUILARIA KHASIANA Found at India
14.AQUILARIA MICROCAPA Found at Indonesia, Malaysia
15.AQUILARIA ROSTRATA Found at Malaysia
16.AQUILARIA SINENSIS Found at China

Kamis, 04 Maret 2010

jual gaharu KEMEDANGAN



(Gaharu Kemedangan,dekoratif,buat bahan baku ukiran)


Jual gaharu jenis kemedangan,Dekoratif dari papua.
Siap kirim dalam jumlah banyak dan rutin.
Spesifikasi sebagai barikut :
= warna campuran,cuklat,hitam,putih
= bentuk alami,dekoratif,sesuai aslinya,
= Dibakar mengeluarkan bau khas gaharu,kekuatan aroma variasi
harga negotiable
Sytem transaksi :
Pembeli liat barang,cocok,teken kontrak,notariel,
Inden order,terhitung contoh dilihat,maksimal 16 hari.
Bisa lebih cepat dikirin via paket udara.Barang ada pada kami.Hanya melayani pembeli serius,dan bersedia memberi Down paymen,untuk tanda jadi barang sebelum dikirim dari papua.Jika barang datang,transaksi gagal,Dp dipotong 25 %.
kontak kami secepatnya

Senin, 01 Maret 2010

Jual - beli Kemenyan,(Frankin cense)






Kemenyan Pasir Siap Eksport


Ready 15 ton @ 25 Kg per lempengan


Dicari pembeli kemenyan dalam jumlah besar dan rutin.Kami akan kirimkan untuk anda

Kemenyan adalah getah (eksudat) kering, yang dihasilkan dengan menoreh batang pohon kemenyan (Styrax spp., suku Styracaceae; terutama S. benzoin Dryand. dan S. paralelloneurus Perkins). Resin yang kering berupa keping-keping putih atau keputihan, yang terbenam dalam massa coklat bening keabuan atau kemerahan, keras namun rapuh, dan berbau harum enak. Kemenyan ini dalam perdagangan internasional dikenal sebagai kemenyan sumatra; yang lainnya adalah kemenyan siam, yang lebih harum dan dihasilkan oleh S. tonkinensis dari Siam dan Tonkin.[1]

Kemenyan digunakan dalam industri farmasi sebagai bahan pengawet dan campuran obat batuk, serta dalam industri parfum sebagai bahan baku wewangian. Secara tradisional, kemenyan digunakan sebagai dupa dalam ritual Kejawen. Penggunaan lainnya adalah sebagai bahan campuran dalam industri rokok klembak-menyan.



Kemenyan Pasir Kasar


Indonesia serasa lahir kembali setiap bulan Agustus itu. Tapi, apakah semua sudah paham, berasal dari manakah nama Indonesia itu. Ternyata, nama itu bukan sekadar nama yang diciptakan. Berbagai sejarah menarik berada di belakangnya.

Sebelum ada nama “Indonesia”, aneka nama diberikan kepada Negeri 1000 Pulau ini. Bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai atau Kepulauan Laut Selatan. Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.



Kemenyan Madu


Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera.

Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia.

Jazirah Asia Selatan mereka sebut Hindia Muk a dan daratan Asia Tenggara dinamai Hindia Belakang, sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel, Malay Archipelago, Archipel Malais).

Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga Kepulauan Hindia (dalam bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20. (wikipedia/ berbagai sumber)



Kemenyan Pasir Kasar



Kemenyan merupakan getah yang dihasilkan  dari batang pohon kemenyan ( Styrax spp., suku Styracaceae ; terutama S. benzoin Dryand. dan S. paralelloneurus Perkins). Getah / carian  yang kering berupa keping-keping putih atau keputihan, keras namun rapuh, dan mengeluarkan aroma wangi yang khas..Getah kemenyan pada unumnya dibagi tiga kelas : kelas satu getah putih yang disebut sidukabi atau mata zam zam yang mempunyai nilai jual tinggi, kelas dua :  dimana getahnya berwarnya kekuning2an dan kelas tiga yaiyu sisa panen yang terluka akibat panen yang pertama..Sedangkan secara besar kecil ukuran getahnya dapat dikelompokan 


menjadi 7 kelompok yaitu 

dari yang termahal sampai termurah :

01.Mata lasar, 

02.Kacang, 

03.Jagung,

04.Besar,

05. Pasir kasar, 

06.Pasir halus 

07.Abu Kemenyan 

ini dalam perdagangan internasional dikenal sebagai kemenyan sumatra; 

yang lainnya adalah kemenyan siam , yang lebih harum , yang dihasilkan oleh S.tonkinensis dari siam dan Tonkin. Resin / getah kemenyan baru diproduksi oleh pepagan saat batang mengalami infeksi oleh fungi (jamur) tertentu. Resinnya terutama mengandung asam benzoat dan turunannya, seperti lubanolbenzoat, sumaresinol, vanilin, stirol (bukan sterol!), Benzaldehida, benzilsinamat, dan fenilpropilsinamat.



Kegunaan :
Kemenyan digunakan dalam industri farmasi sebagai bahan pengawet dan campuran obat batuk serta dalam industri parfum sebagai bahan baku wewangian. Secara tradisional, kemenyan digunakan sebagai campuran dupa dalam ritual Kejawen . Kemenyan memiliki sifat fiksatif sehingga mengikat minyak atsiri agar tidak terlalu cepat menguap. Penggunaan lainnya adalah sebagai bahan campuran dalam industri rokok klembak-menyan. Di Indonesia kemenyan banyak digunakan untuk kepentingan ritual dan tolak bala atau hampir di setiap acara-acara penting dan hari bersejarah bau kemenyan nyaris tidak tertinggalkan. Sedangkan di beberapa negara Eropa dan Amerika kemenyan banyak digunakan untuk terapi kesehatan maupun kecantikan , bahkan di kamar-kamar hotel berbintang sering kita jumpai wewangian kemenyan yang dicampur dengan bunga melati.

Khasiat  Kemenyan Pengobatan
Kini para ilmuwan telah mengamati bahwa ada kandungan dalam kemenyan yang menghentikan penyebaran kanker. Belum diketahui secara pasti kemungkinan kemenyan sebagai anti kanker.


Namun dulu pada abad kesepuluh, Ibnu Sina, ahli pengobatan Arab, merekomendasikan kemenyan sebagai obat untuk tumor, bisul, muntah, disentri dan demam.
Dalam pengobatan tradisional Cina, kemenyan digunakan untuk mengobati masalah kulit dan pencernaan. Sedangkan di India, kemenyan digunakan untuk mengobati arthritis. Khasiat kemenyan sebagai obat arthritis tersebut mendapat dukungan dari penelitian laboratorium di Amerika Serikat.

Kemenyan yang biasa digunakan untuk urusan mistis ternyata berdasarkan hasil penelitian juga mampu menurunkan kadar kolesterol jahat.

Penelitian yang dilakukan oleh King Abd Al-Aziz University di Arab Saudi menemukan bahwa kemenyan bisa menurunkan kadar kolesterol jahat.
Kemenyan, menurut peneliti Nadia Saleh Al-Amoudi, bisa dipadukan dengan materi dari tumbuhan lainnya untuk meningkatkan kesehatan jantung. Akan tetapi, masih belum ditemukan cara yang jelas agar manusia bisa mengonsumsinya.


Kemenyan Pasir Sumatra


“Kemenyan telah lama digunakan sebagai pengobatan medis untuk mengatasi sakit tenggorokan, hidung mampat, bekas luka dan luka bakar,” jelas Al-Amoudi, seperti diberitakan dari situs Healthday.

Studi yang dipublikasikan di International Journal of Food Safety, Nutrition and Public Health ini, peneliti memberikan kemenyan kepada binatang pengerat albino dan menemukan bahwa kadar kolesterol jahat binatang pengerat itu turun sedang kadar kolesterol baik meningkat.

Pada umumnya di indonesia kemenyan dipergunakan untuk acara ritual keagamaan atau tradisi , disini kami menyediakan kemenyan madu yang sudah dicetak / dikemas 1 kg. 
juga tersedia kemenyan madu ukuran besar yaitu kemasan anatara 18 kg s/d 27 kg 
( perbedaan tersebut  dilihat dari aromanya juga banyaknya kadar kemenyan  serta besar kecilnya ukuran kemenyan yang dipakai ), sedangakan untuk kemenyan biasa hampir tidak menggunakan getah

kemenyan melainkan menggunakan getah yang disebut damar dikombinasi dengan yang lainnya, sehingga harga lebih murah , tetapi tetap mempunyai aroma  wangi. Untuk kemenyan jenis ini terdapat banyak warna seperti hitam, kuning, putih dan merah. 

Senin, 22 Februari 2010

Gaharu dalam Persfektif




GAHARU: HHBK yang Menjadi Primadona

Gaharu merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang cukup dapat diandalkan, khususnya apabila ditinjau dari harganya yang sangat istimewa bila dibandingkan dengan HHBK lainnya. Nilai jual yang tinggi dari gaharu ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya. Sebagai contoh, pada awal tahun 2001, di Kalimantan Timur tepatnya di Pujangan (Kayan) harga gaharu dapat mencapai Rp. 600.000,- per kilogram . Pada tingkat eceran di kota-kota besar harga ini tentunya akan semakin tinggi pula. Kontribusi gaharu terhadap perolehan devisa juga menunjukkan grafik yang terus meningkat. Menurut Balai Pusat Statistik, rata-rata nilai ekspor gaharu dari Indonesia tahun 1990-1998 adalah sebesar US $ 2 juta, dan pada tahun 2000 meningkat menjadi US $ 2.2 juta.

Gaharu dikenal karena memiliki aroma yang khas dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, pewangi ruangan, hio (pelengkap sembahyang pemeluk agama Budha & Kong Hu Cu), obat, dan sebagainya.

Masyarakat awam seringkali mengaburkan istilah gaharu dengan pohon gaharu. Menurut SNI 01-5009.1-1999 gaharu didefinisikan sebagai sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada suatu jenis pohon, yang pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. (Nama daerah: Karas, Alim, Garu dan lain-lain).

Gaharu diperdagangkan dalam berbagai bentuk, yaitu berupa bongkahan, chips dan serbuk. Bentuk bongkahan dapat berupa patung atau bentuk unik (natural sculpture) atau tanpa bentuk sama sekali. Demikian pula warnanya, bervariasi mulai dari mendekati putih sampai coklat tua atau mendekati kehitaman, tergantung kadar damar wangi yang dikandungnya dan dengan sendirinya akan semakin wangi atau kuat aroma yang yang ditimbulkannya. Umumnya warna gaharu inilah yang dijadikan dasar dalam penentuan kualitas gaharu. Semakin hitam/pekat warnanya, semakin tinggi kandungan damar wanginya, dan akan semakin tinggi pula nilai jualnya. Umumnya semakin hitam/pekat warna gaharu, menunjukkan semakin tinggi proses infeksinya, dan semakin kuat aroma yang ditimbulkannya. Namun pedoman warna dan aroma ini tidaklah mutlak, karena dalam kenyataannya, warna ini dapat diakali dengan penerapan pewarna, sedangkan aroma dapat diakali dengan mencelupkan gaharu ke dalam destilat gaharu. Sehingga hanya pedagang-pedagang yang sudah berpengalaman dan sudah lama berkecimpung dalam perdagangan gaharu sajalah yang dapat membedakan antara gaharu yang tinggi kualitasnya dengan yang lebih rendah kualitanya (kemedangan).

Di Indonesia, gaharu yang diperdagangkan secara nasional masih dalam bentuk bongkahan, chips ataupun serbuk gaharu. Masyarakat belum tertarik untuk mengolah gaharu secara lebih lanjut, misalnya dalam bentuk produk olahan seperti destilat gaharu, parfum, chopstick, dan lain-lain, yang tentunya akan lebih meningkatkan nilai jualnya.

Gaharu dihasilkan oleh pohon-pohon terinfeksi yang tumbuh di daerah tropika dan memiliki marga Aquilaria, Gyrinops dan Gonystilus yang keseluruhannya termasuk dalam famili Thymelaeaceae. Marga Aquilaria terdiri dari 15 spesies, tersebar di daerah tropis Asia mulai dari India, Pakistan, Myanmar, Lao PDR, Thailand, Kamboja, China Selatan, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Enam diantaranya ditemukan di Indonesia (A. malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A. cumingiana dan A. filarial). Keenam jenis tersebut terdapat hampir di seluruh kepulauan Indonesia, kecuali Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Marga Gonystilus memiliki 20 spesies, tersebar di Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Peninsula, Serawak, Sabah, Indonesia, Papua New Guinea, Philipina dan kepulauan Solomon serta kepulauan Nicobar. Sembilan spisies diantaranya terdapat di Indonesia yaitu: di Sumatera, Kalimantan, Bali, Maluku dan Irian Jaya. Marga Gyrinops memiliki tujuh spesies. Enam diantaranya tersebar di Indonesia bagian timur serta satu spesies terdapat di Srilanka.

Penyebab timbulnya infeksi (yang menghasilkan gaharu) pada pohon penghasil gaharu, hingga saat ini masih terus diamati. Namun, para peneliti menduga bahwa ada 3 elemen penyebab proses infeksi pada pohon penghasil gaharu, yaitu (1) infeksi karena fungi, (2) perlukaan dan (3) proses non-phatology. Dalam grup yang pertama, Santoso (1996) menyatakan telah berhasil mengisolasi beberapa fungi dari pohon Aquilaria spp. yang terinfeksi yaitu: Fusarium oxyporus, F. bulbigenium dan F. laseritium. Pada kasus 2 dan 3 muncul hipotesis yang menyatakan bahwa perlukaan pohon dapat mendorong munculnya proses penyembuhan yang menghasilkan gaharu. Tetapi hipotesis inipun masih memerlukan pembuktian.

Kualita Gaharu Indonesia secara nasional telah ditetapkan dalam SNI 01-5009.1-1999 
Gaharu. Dalam SNI tersebut kualita gaharu dibagi dalam 13 kelas kualitas yang terdiri dari :

Gubal gaharu yang terbagi dalam 3 kelas kualitas

(Mutu Utama = yang setara dengan mutu super;
 mutu Pertama = setara dengan mutu AB; dan
 mutu Kedua = setara dengan mutu Sabah super),

Kemedangan yang terbagi dalam 7 kelas kualita
 (mulai dari mutu Pertama = setara dengan mutu TGA/TK1 
sampai dengan mutu Ketujuh = setara dengan mutu M3), dan

Abu gaharu yang terbagi dalam 3 kelas kualita 
(mutu Utama, Pertama dan Kedua).

Pada kenyataannya dalam perdagangan gaharu, pembagian kualitas gaharu tidak seragam antara daerah yang satu dengan yang lain, meskipun sudah ada SNI 01-5009.1-1999 Gaharu. Sebagai contoh, di Kalimantan Barat disepakati 9 jenis mutu yaitu dari kualitas Super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan kropos (terburuk). Sedangkan di Kalimantan Timur dan Riau, para pebisnis gaharu menyepakati 8 jenis mutu, mulai dari mutu super A (terbaik) sampai dengan mutu kemedangan (terburuk). Penetapan standar di lapangan yang tidak seragam tersebut dimungkingkan karena keberadaan SNI Gaharu sejauh ini belum banyak diketahui dan dimanfaatkan oleh para pedagang maupun pengumpul. Disamping itu, sebagaimana SNI-SNI hasil hutan lainnya, penerapan SNI Gaharu masih bersifat sukarela (voluntary), dimana tidak ada kewajiban untuk memberlakukannya.

Pemanfaatan gaharu dari alam secara tradisional di Indonesia (Kalimantan dan Sumatera), akan menjamin kelestarian pohon induknya, yaitu hanya mengambil bagian pohon yang ada gaharunya saja tanpa harus menebang pohonnya. Pemanenan Gaharu sebaiknya dari pohon-pohon penghasil gaharu yang mempunyai diameter di atas 20 cm. Namun, sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar dan nilai jual dari gaharu, masyarakat lokal telah mendapat pesaing dari pebisnis gaharu dari tempat lain, sehingga mereka berlomba-lomba untuk berburu gaharu. Akibatnya, pemanfaatan gaharu secara tradisional yang mengacu pada prinsip kelestarian tidak dapat dipertahankan lagi. Hal ini berdampak, semakin sedikitnya pohon-pohon induk gaharu. Bahkan di beberapa tempat, gaharu telah dinyatakan jarang/hampir punah. Hal ini disebabkan oleh karena penduduk tidak lagi hanya menoreh bagian pohon yang ada gaharunya, tetapi langsung menebang pohonnya. Diameter pohon yang ditebangpun menurun menjadi dibawah 20 cm, dan tentu saja kualita gaharu yang diperolehpun tidak dapat optimal.

Akibat semakin langkanya tegakan pohon penghasil gaharu, dalam COP (Conference of Parties) ke – 9 CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) di Fort Lauderdale, Florida, USA (7 – 18 Nopember 1994) para peserta konferensi atas usulan India menerima proposal pendaftaran salah satu spesies penghasil gaharu (A. malaccensis) dalam CITES Appendix II. Dengan demikian dalam waktu 90 hari sejak penerimaan/penetapan proposal tersebut, perdagangan spesies tersebut harus dilakukan dengan prosedur CITES.

Namun masalahnya, hingga saat ini gaharu yang diperdagangkan dalam bentuk bongkahan, chips, serbuk, destilat gaharu serta produk akhir seperti chopstick, pensil, parfum, dan lain-lain tidak dapat/sulit untuk dapat dibuktikan apakah gaharu tersebut dihasilkan oleh jenis A. malaccensis ataukah dari spesies lain. Untuk mengatasi masalah ini, akhirnya ditempuh kebijaksanaan bahwa baik negara pengekspor maupun penerima tetap menerapkan prosedur CITES terhadap setiap produk gaharu, terlepas apakah produk tersebut berasal dari spesies A. malaccensis ataukah bukan. Hal ini dikarenakan sebagian besar populasi spesies penghasil gaharu di alam sudah berada pada posisi terancam punah. Dengan demikian diharapkan populasi spesies penghasil gaharu dapat diselamatkan.

Penutup

Mempertimbangkan nilai jual Gaharu, patut diupayakan peningkatan peranan Gaharu sebagai komoditas andalan alternatif untuk penyumbang devisa dari sektor kehutanan selain dari produk hasil hutan kayu. Untuk mendapatkan manfaat nilai tambah maksimal dalam memanfaatkan komoditas tersebut, perlu pembinaan kepada produsen di dalam negeri untuk mengolah gaharu secara lebih lanjut, misalnya dalam bentuk produk akhir (olahan) seperti destilat gaharu, parfum, chopstick, dan lain-lain dengan nilai jual yang lebih tinggi. Disamping itu, untuk mendorong keseragaman penetapan kualita di lapangan, keberadaan SNI gaharu perlu disosialisasikan di kalangan para produsen, pedagang, dan para konsumen. Lebih lanjut, untuk menjamin keberlanjutan pasokan gaharu, perlu upaya pembinaan agar masyarakat memanen gaharu dengan cara-cara yang mengindahkan kaidah-kaidah kelestarian. Akhirnya, untuk menghindarkan kepunahan gaharu, maka aturan atau prosedur CITES dalam perdagangan komoditas gaharu harus dilaksanakan secara konsekwen di lapangan oleh para pihak yang berkepentingan.



Daftar Pustaka :

Anonym. SNI 01-5009.1-1999: Gaharu. Badan Standar-disasi Nasional (BSN). 1999

Soehartono, Tonny; Gaharu: Kegunaan dan Pemanfaatan. Disampaikan pada Lokakarya Tanaman Gaharu di Mataram tanggal 4 – 5 September 2001

Rohadi, Dede dan Suwardi Sumadiwangsa, Prospek dan Tantangan Pengembangan Gaharu di Indonesia: Suatu Tinjauan dari Perspektif Penelitian dan Pengembangan, Disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Tanaman Gaharu di Mataram, 4 – 5 September 2001.

Minggu, 21 Februari 2010

Jual - Beli, Gaharu buaya







Supplier Hasil Bumi Asal pulau jawa dan luar pulau jawa

kami merupakan Perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan umum,trading,

Kami Mencari Pembeli maupun Partner Usaha yang ada di Jakarta, Pulau Jawa maupun dari Luar Negeri dengan kriteria Terbuka, Jujur dan memiliki Modal tentunya.

Gaharu terdiri dari 17 species, namun kita sering mengenalnya dengan 2 jenis gaharu, yaitu Gaharu angkaras untuk yang kelas utama dan Gaharu Buaya untuk kelas kedua. Gaharu Buaya (agarwood) atau disebut juga dengan kayu Bouya adalah merupakan salah satu species dari Family Aquilaria. Gaharu Buaya ini umumnya tumbuh di daerah rawa yang notabene merupakan salah satu habitat yang disukai oleh hewan yang namanya buaya.

Gaharu Buaya merupakan bahan baku untuk pembuatan dupa dan pembuatan parfum (wewangian). Gaharu Buaya dijual dalam bentuk Log (gelondongan atau batangan) dan Juga dalam bentuk serbuk,potongan,rajangan.

Kami ,menyediakan Gaharu Buaya dalam bentuk LOG,rajangan,dan serbuk,untuk pangsa pasar dalam negeri dan luar negeri.