Minggu, 09 Januari 2011

Jual- Beli Cendana










by Warga Amarasi on Friday, October 16, 2009 at 2:46am


Cendana merupakan pohon penghasil kayu cendana. Ada dua jenis cendana, cendana wangi (Santalum album) dan cendana jenggi (Sandalum spicatum). Biasanya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, dan sangkur keris. Aroma harum yang dihasilkan kayunya bisa bertahan sampai berabad-abad lamanya. Tumbuhan ini banyak terdapat di NTT, khususnya di pulau Timor. Ada juga ditemukan di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara lainnya. (Wikipedia/ Yulisa farma)


NTT Kembangkan Kembali Pohon Cendana
13-02-2009
KUPANG--MI: Pohon Cendana (Santalum album Linn) yang merupakan kebanggaan Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata sudah sulit dijumpai di wilayah tersebut. Hal ini merupakan dampak Peraturan Daerah (Perda) NTT Nomor 16 Tahun 1986 tentang pengelolaan cendana.

Perda tersebut antara lain menyatakan pohon cendana yang tumbuh di pekarangan rumah penduduk adalah milik pemerintah. Akibatnya, warga memilih menebang cendana milik mereka dan menjualnya dengan harga murah.

Hal tersebut terungkap dalam Pencanangan Pengembangan Cendana Berbasis Masyarakat di Desa Ponain, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, NTT, Kamis (12/2) yang dihadiri Menteri Kehutanan (Menhut) MS Kaban. Untuk mengembalikan kejayaan NTT sebagai daerah penghasil cendana terbesar, Menhut mewajibkan setiap warga di daerah itu menanam satu pohon Cendana.

Hal tersebut bertujuan membangkitkan kesadaran dan kepedulian warga membangun upaya konservasi dan budidaya tanaman cendana. "Ini memang berambisi, tetapi mengandung niat baik untuk mengembalikan NTT sebagai daerah penghasil kayu cendana," katanya.

Permintaan itu beralasan sebab pada tahun 1980-an produksi cendana NTT masih berkisar 15 ribu ton. Tetapi mulai menurun pada 2000 yanh hanya 100 ton dan terhenti pada tahun 2004 karena seluruh pohon cendana sudah ditebang.

Kaban mengatakan pada penjajahan Belanda, pohon cendana di Pulau Timor ditebang secara besar-besaran untuk dikirim ke Belanda, sehingga ketika itu NTT terkenal sebagai satu-satunya daerah penghasil cendana. Tetapi setelah punahnya cendana, sekarang NTT harus mendatangkan lagi bibit cendana dari Kabupaten Gunung Kidul, Yogjakarta. Padahal, bibit cendana yang dibudidayakan di daerah itu, diambil dari Pulau Timor.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengakui terjadi kesalahan dalam pembuatan perda tersebut. Karena itu, pada 2004, perda dicabut dan diganti dengan perda nomor 2 Tahun 1999. Perda itu memberikan porsi yang cukup besar kepada warga untuk menanam cendana. Tetapi nyatanya belum efektif untuk memulihkan kepercayaan masyarakat membangun kembali upaya konservasi dan budi daya cendana.

Menurut Gubernur, pada 1997 memang masih ada 250.940 pohon cendana yang tumbuh di Pulau Timor bagian barat. Tetapi pada pendataan 2007, dari populasi itu berkurang sebesar 46,05 persen. Itu pun hanya pohon kecil yang tumbuh secara alami. Tahun ini belum dilakukan pendataan ulang. (PO/OL-06)



http://www.mediaindonesia.com/

Tidak ada komentar: