Sabtu, 02 Februari 2013

Gaharu dan sejarahnya,


Gaharu Maluku


Super Ambon
Super Sumatra



Sejarah singkat gaharu,
Dupa Sejak Zaman Sriwijaya
Di Indonesia, Gaharu dikenal sejak zaman Sriwijaya atau tepatnya pada tahun 671 M (kira-kira tahun 10 H. Pada masa itu juga, Gaharu sudah menjadi salah satu produk dagangan, antara Sriwijaya, Tiongkok, dan India Muka. Dimana yang menjadi penggerak dalam  perdagangan ini adalah musafir ziarah Budhis, yang datang langsung ke Sriwijaya.
Hal ini memungkinkan, mengingat kayu gaharu juga dijadikan perlengkapan untuk sembahyang umat Budha, sebut saja Dupa.  Bau gaharu cukup komplek dan menyenangkan, secara alamiah tidak ada padanan yang tepat . 
Gaharu dan minyaknya mendapat perhatian besar dalam budaya dan agama sejak peradaban kuno di seluruh dunia, seperti tertuang dalam catatan tertua – dalam Weda bahasa Sanskerta dari India.
Sementara itu, pada awal abad ke-3, dalam Nan Wu Yi Zhou Zhi (Hal-Hal aneh dri selatan) yang ditulis pada saat kepemimpinan Dinasti Wu, menyebutkan Gaharu diproduksi di wilayah Rinan, atau yang saat ini dikenal dengan sebutan Vietnam bagian tengah, dan untuk mendapatkan Gaharu dikumpulkan dari pengunungan.
Dimulai pada tahun 1580, setelah Nguyen Hoang mengambil kendali atas provinsi-provinsi tengah Vietnam modern, ia mendorong perdagangan dengan negara lain, khususnya Cina dan Jepang. Gaharu yang diekspor dalam 3 varitas yaitu Calambac (ky nam dalam bahasa Vietnam) trem hurong (sangat serupa tetapi sedikit lebih keras dan lebih banyak), dan gaharu itu sendiri. 
Satu pon Calambac dibeli di Hoi An selama 15 tael dapat dijual di Nagasaki untuk 600 tail. Penguasa Nguyen segera mendirikan kerajaan Monopoli atas penjualan Calambac. Monopoli ini membantu mendanai keuangan negara Nguyen selama tahun-tahun awal aturan Nguyen.
Xuanzang’s travelouges dan Harshacharita, yang ditulis pada abad ke-7 Masehi di India Utara menyebutkan penggunaan produk-produk gaharu seperti ‘Xasipat’ (bahan tulisan) dan ‘minyak aloe‘ di Assam kuno (Kamarupa). Dan hingga saat ini, tradisi membuat bahan-tulisan dari kulit gaharu masih ada di Assam.
Gaharu dikenal dengan banyak nama dalam kebudayaan yang berbeda, “Agar” di India (bahasa sansekerta), Chen-Xiang dalam bahasa Cina, “trem Huong” dalam bahasa Vietnam, dan Jin-koh dalam bahasa Jepang; semua bermakna “insence/dupa tenggelam”  yang mengacu kepada padatan/densitas tinggi.
 Di wilayah Arab gaharu dan distilasinya dikenal dengan nama Oud demikian juga di wilayah Negara-negara Islam. Di Negara barat penggunaan minyak gaharu esensial dalam minyak wangi dengan nama “oud” atau “oude”. Gaharu dalam Perjanjian Lama dan Kitab Suci Ibrani  diyakini bahwa gaharu dari Aquilaria malaccensis.
 Di Tibet dikenal sebagai a-ga-ru. Ada beberapa varietas digunakan dalam bahasa Tibet Kedokteran yaitu gaharu unik ar-ba-zhig; gaharu kuning a-ga-ru ser-po, gaharu putih ar-skya, dan gaharu hitam ar-omelan. 
Di dareah Asam (India) disebut sebagai ogoru, di Indonesia dan Malaysia dikenal dengan gaharu, di Papua Nugini disebut ghara, dalam bahasa Thailand dikenal sebagai Mai Kritsana,  di Laos dikenal sebagai Mai Ketsana. (net)
 

Tidak ada komentar: